Kematian Kim Jong-nam Bikin Korea Utara Dan Malaysia Debat

0
56
Kim Jong-nam
Kim Jong-nam

Kematian kakak tiri Kim Jong-un di Bandara Internasional Kuala Lumpur membuat geger publik. Berbagai macam pendapat pun bermunculan mengenai peristiwa kematian dari kakak tiri Kim Jong-un yaitu Kim Jong-nam. Kematian Kim Jong-nam diduga karena diracun oleh seseorang.

Kepala Intelijen Korea Selatan angkat bicara bahwa serangan mematikan itu sengaja dilakukan oleh seorang agen perempuan yang diduga dikirim oleh Korea Utara. Agen tersebutlah yang diduga telah menyemprotkan racun kewajah Kim Jong-nam.

Namun demikian, semua itu masih menjadi jejak pendapat karena hasil autopsi  belum diumumkan. Otoritas Malaysia saat ini sedang mencari sampel DNA dari keluarga Kim Jong-nam karena diyakini bahwa ia memiliki dua putra, seorang putri, dan dua wanita yang tidak disebutkan hubungannya. Mereka disebut-sebut tinggal di Beijing dan Macau.

Beberapa jam setelah kematian putra sulung Kim Jong-il, pemerintah Malaysia memanggil pulang Duta Besarnya yang berada di Pyongyang.

Merasa tidak terima dengan perlakuan itu, Duta Besar Korea Utara untuk Malaysia menyebut Negeri Jiran memiliki sebuah rahasia terkait dengan kematian Kim Jong-nam.

Para analis menilai otoritas Malaysia akan sangat berhati-hati mengambil langkah atas jasad Kim Jong-nam. Kuala Lumpur tidak ingin terhanyut dalam pertentangan Korea Utara atau pihak-pihak lain.

Namun demikian, perseteruan berlawanan pendapat antara dua negara tersebut pun semakin memanas dimedia massa.

 

Adapun beberapa faktor yang memicu perseteruan antara Korea Utara dan Malaysia, diantaranya :

1. Korea Utara Tuduh Malaysia Ada Rahasia

Pada 17 Febuari Duta Besar Korea Utara untuk Malaysia, Khang Chol mengatakan investigasi kematian Kim Jong-nam penuh motivasi politik.

“Kami meminta investigasi bersama,” kata Khang.

Sementara pemerintah Malaysia memastikan mereka tidak akan merilis jenazah kakak pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un, Kim Jong-nam. Pihak Negeri Malaysia memberikan syarat penyerahan jenazah bisa dilakukan setelsh keluarga memberikan contoh DNA kepada tim autopsi.

Kepastian itu disampaikan oleh Kepala Kepolisian Negara Bagian Selangor, Abdul Samah Mat.

“Sejauh ini belum ada keluarga yang mengirim jenazah tersebut,” ucap Abdul Samah.

“Kami membutuhkan contoh DNA yang sesuai dengan orang yang telah meninggal ini,” ujarnya lagi.

2.Malaysia Panggil Pulang Duta Besarnya

Tak lama setelah Korea Utara menuduh Malaysia, Kementerian Luar Negeri Malaysia memanggil pulang duta Besarnya yang berada di Pyongyang.

Pemanggilan ditujukan untuk meminta keterangan terkait komentar dari perwakilan pemerintah Korea Utara tentang tuduhan aparat keamanan Malaysia yang telah mengatur investigasi kematian Kim Jong-nam.

“Dia harus menjelaskan tuduhannya terkait pernyataannya yang disampaikan kepada pemerintah Malaysia pada konferensi pers 17 Febuari lalu,” jelas Kementerian Luar Negeri Malaysia

“Dalam konferensi pers, Duta Besar Korea Utara, Kang Chol, menyampaikan sindiran bahwa pemerintah Malaysia menyembunyikan sesuatu,” kata pernyataan pers tersebut.

Bukan cuma itu, dalam konpres tersebut, Kang juga mengatakan Malaysia sudah berkolusi dan telah memainkan peran sebagai penegak hukum internasional.

3. Korea Utara Curiga Investigasi Malaysia

Duta Besar Kang menuduh investigasi Malaysia terkait kematian Kim Jong-nam adalah motif politik.

Duta Besar Korea Utara itu kembali menuntut penyelidikan bersama atas kasus kematian Kim Jong Nam tersebut.

“Penyelidikan yang dilakukan polisi Malaysia tidak bertujuan untuk mengklarifikasi penyebab kematian dan mencari tersangka, melainkan bermotif politik,” ujar Duta Besar Kang Chol.

“Polisi telah mencurigai kami,” ujarnya lagi. Kang Chol menyerukan agar Malaysia dan masyarakat internasional melibatkan Korea Utara dalam investigasi bersama.

4. Menkes Malaysia Geram

Mengatasi tuduhan Duta Besar Kang Chol, Menteri Kesehatan Malaysia bersuara keras.

“Kemampuan Malaysia untuk menggelar postmortem dan identifikasi jenazah Kim Jong Nam tidak pantas diraguka oleh pihak mana pun,” kata Menteri Kesehatan Datuk Seri Dr S. Subramaniam.

Subramaniam menambahkan bahwa negaranya telah memiliki kemampuan dan pengalaman untuk melakukan prosedur semacam itu.